Loading...

Studi Lapangan Mahasiswa Prodi Ilmu Lingkungan Tahun 2024

Diterbitkan pada
4 November 2024 16:05 WIB

Baca

Yogyakarta, Indonesia – Dosen dan Mahasiswa/i Program Studi Ilmu Lingkungan Angkatan 2023 di Jurusan Sains dan Teknologi UIN Raden Mas Said Surakarta melaksanakan kuliah lapangan ke Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Sewon, Bantul yang berada di bawah naungan Balai Pengelolaan Air Limbah dan Pengembangan Jasa Konstruksi (BPALPJK), serta kawasan Mangrove Jembatan Api-api di Kulonprogo pada hari Rabu, 30 Oktober 2024.

Studi lapangan pada Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Sewon adalah kegiatan yang bersifat penting bagi mahasiswa Ilmu Lingkungan karena berkaitan dengan pembelajaran pada Mata Kuliah Satuan Operasi dan Satuan Proses. IPAL Sewon menjadi lokasi studi yang ideal karena memiliki unit-unit pengolahan limbah yang mencakup berbagai teknik dan teknologi pengolahan. Melalui studi lapangan ini, mahasiswa dapat melihat langsung penerapan teori satuan operasi dan satuan proses dalam pengolahan air limbah, sehingga memahami bagaimana prinsip-prinsip tersebut diimplementasikan dalam skala komunal. Mahasiswa juga diharapkan dapat mengidentifikasi unit-unit operasi yang ada, memahami mekanisme kerja setiap unit, dan menganalisis kinerja operasionalnya. Hal tersebut guna memahami mengenai parameter yang perlu dikendalikan dalam pengoperasian unit-unit tersebut, serta mengidentifikasi tantangan teknis yang mungkin muncul dalam pengoperasian unit proses, seperti korosi, fouling, atau masalah kontrol proses. Dengan demikian, bservasi langsung ini memberikan wawasan praktis yang mendalam untuk memperkuat konsep teoritis yang telah dipelajari di kelas.

Kunjungan kedua dilaksanakan pada kawasan Mangrove Jangkaran yang terletak di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi eksitu yang mendukung kehidupan beragam spesies flora dan fauna, khususnya yang berada di ekosistem payau. Secara umum, ekosistem mangrove memiliki beragam fungsi dari aspek ekologis, ekonomi, hidrologis, maupun sosial. Fungsi ekologis dari keberadaan ekosistem mangrove yakni sebagai perlindungan dan penahan abrasi pantai dan tsunami, tempat pemijahan ikan dan habitat beragam flora fauna, sebagai penahan sedimen dari sungai maupun laut, berperan dalam siklus nutrient serta memiliki peran penting sebagai penyerap karbon. Dalam aspek ekonomis, mangrove memiliki peran sebagai sumber bahan pangan maupun obat-obatan serta dapat dijadikan sebagai lokasi ekowisata. Mangrove juga memiliki peran dalam mengurangi instrusi air laut serta menjaga kualitas air dengan menyaring polutan melalui kemampuan akarnya. Adapun fungsi sosial mangrove yakni dapat dijadikan sebagai sarana untuk pendidikan maupun riset.

Melalui studi lapangan di Kawasan Mangrove Jangkaran di Kulon Progo, mahasiswa dapat mengaplikasikan teori-teori konservasi yang telah dipelajari di kelas dengan melihat langsung dinamika alam, interaksi antara manusia dan lingkungan, serta tantangan yang dihadapi dalam upaya pelestarian alam. Kawasan ini menawarkan ekosistem yang kompleks, mulai dari keanekaragaman hayati, pengelolaan ekowisata, hingga mitigasi dampak aktivitas manusia. Dengan demikian, studi lapangan ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar yang konkret, tetapi juga memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap pentingnya konservasi dalam menjaga keseimbangan ekologi.

Secara berkelanjutan, kegiatan studi lapangan di Kawasan Ekosistem Mangrove Jangkaran juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi mahasiswa dalam upaya pelestarian alam serta mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam hal perlindungan ekosistem laut (SDG 1). Melalui pendekatan holistik dan partisipatif, mahasiswa diharapkan dapat merumuskan solusi yang inovatif dan berkelanjutan dalam pengelolaan kawasan konservasi ini, baik dalam lingkup akademik maupun praktik di lapangan. (AU)